✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿

Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu dhuha-Mu, kecantikannya, kecantikan-Mu, keindahannya, keindahan-Mu,
kekuatannya, kekuatan-Mu, kekuasaannya, kekuasaan-Mu, perlindungannya, perlindungan-Mu...

Ya Allah, jika rezeki masih di langit, turunkanlah, jika di bumi keluarkanlah, jika sukar permudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika jauh dekatkanlah...

Berkat waktu dhuha, kecantikan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu, limpahkan kepadaku segala yang Engkau telah limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang soleh..

✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿

Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk agamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab seksaNya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)." [Surah at-Taubah : 24]
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺣﻔﻆ ﻣﺼﺮﻧﺎ ﻭﺃﻫﻠﻬﺎ



Ya Allah! Ya Qahhar ! Ya Jabbar ! Ya Muntaqim ! Ya Dzal Jalali wal ikram! Ya Allah! Ya Allah! Ya Allah! bantulah saudara-saudara kami Dr Morsi dan Ikhwanul Muslimin di Mesir dan di semua tempat.

Ya Allah! bantulah mereka dan janganlah Engkau membantu musuh melawan mereka.

Ya Allah! bantulah mereka dan janganlah Engkau menolong musuh melawan mereka.

Ya Allah! berilah mereka kepakaran membuat senjata untuk menghadapi musuh-musuhMu.

Ya Allah! tepatkanlah bidikan Senjata mereka dan kukuhkanlah kaki-kaki mereka serta berilah taufiq-Mu pada setiap langkah mereka.

Ya Allah! satukanlah barisan mereka dan kumpulkanlah segala upaya mereka.

Ya Allah! jadikanlah jihad mereka di jalan-Mu dan janganlah haramkan pahala jihad mereka atas kami.

Ya Allah! tolonglah kaum muslimin yang terzhalimi di Mesir dan semua tempat.

Ya Allah! tolonglah Ikwanul Muslimin dan perbaikilah hubungan mereka.

Ya Allah! binasakanlah Para Munafiqin Yang Bersongkol dengan Zionis Israel+ Syiah dan Mustakbirin Amerika goncangkanlah dan hancurkan mereka.

Ya Allah! cerai beraikan barisan mereka dan luluh lantakkan kalimat mereka.

Ya Allah! janganlah Engkau memberikan kedudukan yang baik bagi mereka di muka bumi ini.

Ya Allah! lemparkanlah rasa takut dalam hati-hati mereka.

Ya Allah! hitunglah jumlah mereka, bunuhlah mereka dan jangan sisakan seorang pun dari mereka Ya Allah!

Kasihanilah saudara-saudara kami Ya Allah! Perkenankanlah Permintaan Kami, Aamiin Aamiin Aamiin Allahumma Aamiin.. 


Bismillahirrahmanirrahim...

Seperti raya-raya sebelum ini, beraya dengan ibu tiri bukan lagi suatu kejanggalan... Dan tahun ini, ada gambar bersama.. :)

Ini kami adik beradik wif 1 mama, 1 bapa..


Diz one big family.. (tiada dalam gambar, kak Thirah)


My precious family..

Bapa wif his other wife and children

Kak Thirah yang gojes, selamat hari raya... Maaf zahir dan batin.. (^^,)


Malaysia kecoh bila ada dua orang ustaz yang dikenali dan polular mengamalkan poligami... Drama2 pulak sangat epik menayangkan cerita2 poligami yang bad ending... Well, bukan semua kehidupan orang yang berpoligami tu tidak bahagia... Dan, kenapa mengecam orang yang berpoligami? Bukan semua orang mampu dan ada rezeki untuk berpoligami, so terimalah dengan hati terbuka... X perlu sibuk kutuk2... :D

*okey fine, macam saya satu2nya gadis (or mungkin sudah menjadi wanita) yang memnyokong poligami.. Hoho..apa boleh buat... Kehidupan membuatkan kita perlu menerima hakikat...


ABC

 
 
Alphabets are so intelligently arranged...

"A"lways "B"e "C"ool

"D"on't have "E"go with "F"riends

"G"iveup "H"urting "I"ncidences

"J"ust "K"eep "L"oving "M"ankind

"N"ever "O"mit "P"rayers

"Q"uietly "R"emember God

"S"peak the "T"ruth

"U"se "V"alid "W"ords

"X"press "Y"our "Z"eal.

Inspirational, Motivational & Moral Stories For All



“AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.


Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.


“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.


Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.


"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.


Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.


"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.


"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.


Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.


“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.


"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.


Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.


Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."


"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.


Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."


"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."


"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.


"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."


"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"


Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.


"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.


"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.


"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."


Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.




Wallahu a'lam.

-----------

sumber: Majalah Al-Izzah, No. 07/Th.4

-Izwan Isme @ Grup Wali Songo [GPTD]
Bismillahirrahmanirrahim...

:) Kalau dulu, siapa Anwar Ibrahim pun aku x tau... tapi sekarang, umur belum layak pun untuk mengundi, tapi aku mula belajar menilai fenomena2 yang berlaku di Malaysia... Mujur aku mengenal dunia sebelum terlambat... Mujur aku diberi pencerahan... Mujur... Ya, itu semua mujur... Mujur takdir Tuhan menyebelahi aku dan insyaAllah familyku juga... :) Kita harus menilai sesuatu dengan pandangan Islam... Tidak kisahlah dari parti mana pun dia datang, apa jua latar belakang masa lampaunya... Kita lihat keadaannya sekarang... Orang yang paling baik satu ketika dahulu mungkin sahaja penjenayah hebat sekarang... Orang yang paling jahat dahulu mungkin saja ulama pada hari ini... Sungguhpun begitu, kita juga tidak boleh berburuk sangka... Tapi, harus juga berwaspada dan bijak memikirkan implikasi2 yang akan berlaku sekiranya sesuatu benda itu dilakukan... Semoga apa yang diperjuangkan itu adalah yang benar di sisi Allah... Semoga juga perjalanan sepanjang perjuangan ini tidak melanggar batas syariatnya... Semoga perjuangan ini sekiranya benar, dipermudahkan dan dilindungi para pahlawan dan serikandinya... Semoga apa yang kita laksanakan mendapat tempat di sisiNya dan di redhai... Aamiin.... (^^,)v
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.(Al-Baqarah 2:186)

Tiap-tiap khabar berita mempunyai masa yang menentukannya (yang membuktikan benarnya atau dustanya); dan kamu akan mengetahuinya.(Al-An'aam 6:67)

Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini - dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) - sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.
(Al-Hujuraat 49:6)

✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥ GooD GirL ♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿

My Photo
Myzra Midin
✿⊱╮♥...I want to die with my forehead on the ground; the Sunnah in my heart; Allah on my mind; Quran on my tongue; and tears in my eyes... ♥ ✿⊱╮ ♥...I was married to the Duniya - but we have now divorced. I am now engaged to the Akhirah - but my desire to marry Jannah remains. I've rejected Jahannum's proposal and now, Jahannum and Duniya keep harrassing me. Instead of calling 911 and asking for a restraining order, I called upon Allah. Duniya and Jahannum haven't been arrested, so I'm constantly living in fear, but I won't let them ruin me...♥
View my complete profile

✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥

Daisypath - Personal pictureDaisypath Happy Birthday tickers

✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥ Main Family ♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿♥✿